
Kenapa Cerita Visual Lebih Mudah Diingat dari Narasi Teks?
Di tengah arus informasi yang semakin padat, kemampuan menyampaikan pesan dengan cara yang mudah dipahami menjadi semakin penting. Salah satu pendekatan yang kini banyak digunakan adalah cerita visual, yang menggabungkan elemen visual dengan narasi untuk menciptakan pengalaman komunikasi yang lebih kuat. Tidak hanya menarik secara tampilan, pendekatan ini juga terbukti mampu memperkuat daya ingat audiens terhadap pesan yang disampaikan.
Artikel ini mengulas alasan di balik efektivitas cerita visual, serta bagaimana pendekatan ini bekerja lebih baik dibandingkan penyampaian informasi dalam bentuk teks biasa, berdasarkan penelitian dan teori kognitif terkini.
1. Dual Coding Theory: Menggabungkan Visual dan Verbal

Teori Dual Coding yang dikembangkan oleh Allan Paivio mengungkap cara kerja otak manusia dalam memproses informasi melalui dua jalur utama, yaitu jalur verbal dan jalur visual. Ketika pesan disampaikan secara bersamaan menggunakan teks dan gambar, seperti dalam cerita visual, maka otak menciptakan dua representasi mental yang saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Proses ini dikenal dengan istilah double-barrelled learning, di mana informasi dapat diakses kembali melalui jalur verbal maupun visual, sehingga meningkatkan efektivitas pemahaman dan retensi memori. Oleh karena itu, penggunaan cerita visual memberikan keunggulan kognitif yang nyata, menjadikannya metode penyampaian informasi yang jauh lebih mudah diingat dibandingkan narasi teks tunggal.
2. Kecepatan Pemrosesan Visual oleh Otak

Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa dalam mengolah informasi visual dengan kecepatan dan efisiensi yang tinggi. Menurut temuan yang dipublikasikan oleh Marketing Unplugged, gambar dapat diproses oleh otak hingga 60.000 kali lebih cepat dibandingkan dengan teks. Selain itu, sekitar 90% dari seluruh informasi yang diterima otak berasal dari rangsangan visual, menegaskan betapa dominannya peran elemen visual dalam komunikasi dan pemahaman manusia sehari-hari. Karena kecepatan dan dominasi tersebut, penggunaan cerita visual menjadi metode yang jauh lebih efektif dalam menyampaikan pesan. Hal ini terutama penting ketika tujuan utama komunikasi adalah membangun pemahaman secara cepat dan memperkuat daya ingat audiens terhadap informasi yang disampaikan.
3. Keterlibatan Emosional dalam Cerita Visual

Salah satu keunggulan utama dari cerita visual terletak pada kemampuannya untuk membangkitkan respons emosional yang lebih intens dan mendalam dibandingkan dengan narasi berbasis teks. Ketika seseorang melihat gambar atau elemen visual yang kuat dan menyentuh, otak tidak sekadar memproses bentuk, warna, atau komposisi visual semata. Proses tersebut juga melibatkan aktivasi bagian otak yang mengatur emosi, seperti amigdala. Aktivasi amigdala ini memperkuat keterikatan emosional terhadap pesan yang disampaikan, sehingga informasi tersebut tidak hanya diterima secara kognitif, tetapi juga terhubung secara emosional. Hasilnya, informasi yang dikomunikasikan melalui cerita visual cenderung lebih mudah tersimpan dalam memori jangka panjang. Sebagaimana dijelaskan dalam Penn State Sites, keterlibatan emosi yang dihasilkan dari pengalaman visual ini menjadikan cerita visual sebagai alat komunikasi yang jauh lebih efektif dan berkesan dibandingkan narasi teks biasa.
4. Efektivitas dalam Pembelajaran dan Komunikasi

Dalam ranah pendidikan dan pelatihan, penggunaan cerita visual telah terbukti secara signifikan memperkuat efektivitas proses pembelajaran. Dengan memadukan teks bersama elemen-elemen visual seperti ilustrasi, diagram, grafik, atau animasi interaktif, peserta didik tidak hanya dapat memahami materi secara lebih cepat, tetapi juga memiliki kemampuan mengingat informasi tersebut dalam jangka waktu yang lebih panjang. Hal ini terjadi karena asosiasi yang terbentuk antara informasi verbal dan visual membantu otak dalam menyusun serta mengorganisasi data secara lebih sistematis dan mudah diakses kembali. Pendekatan ini tidak hanya relevan di dunia akademis, tetapi juga telah merambah ke bidang komunikasi profesional, khususnya dalam konteks presentasi bisnis. Di sini, penggunaan cerita visual melalui visualisasi data dan narasi yang didukung oleh gambar mampu meningkatkan keterlibatan audiens, mempermudah pemahaman, dan memperjelas pesan yang ingin disampaikan secara lebih persuasif dan efektif.
5. Keunggulan Program Studi Film dan Animasi di Universitas Telkom

Universitas Telkom menawarkan Program Studi Film dan Animasi yang dirancang secara khusus untuk mengasah kemampuan mahasiswa dalam bercerita melalui medium visual secara mendalam dan terstruktur. Program ini tidak hanya fokus pada penguasaan teori naratif dan estetika visual semata, tetapi juga menitikberatkan pada penerapan praktik langsung yang memungkinkan mahasiswa menciptakan cerita visual yang kuat, orisinal, dan bermakna. Didukung oleh tenaga pengajar yang terdiri dari praktisi profesional serta akademisi berpengalaman, serta fasilitas produksi yang lengkap dan sesuai standar industri kreatif terkini, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang komprehensif dan relevan dengan kebutuhan pasar. Perpaduan antara teori, praktik, dan sumber daya ini menjadikan Program Studi Film dan Animasi Universitas Telkom sebagai pilihan utama bagi individu yang bercita-cita membangun karier dalam dunia cerita visual dan produksi konten kreatif berbasis visual.
Cerita visual menawarkan keunggulan kognitif yang jauh melampaui narasi teks saja. Hal ini disebabkan karena proses penyampaian informasi melalui cerita visual melibatkan dua jalur kognitif utama di otak, yakni jalur verbal dan jalur visual, sehingga memperkuat kemampuan otak dalam mengingat dan memahami pesan yang disampaikan. Selain itu, otak manusia memiliki kecepatan yang luar biasa dalam memproses gambar dibandingkan teks, dan elemen visual dalam cerita visual mampu memicu respons emosional yang intens, yang pada gilirannya memperkuat daya ingat serta keterikatan emosional terhadap informasi tersebut. Berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pelatihan profesional, hingga komunikasi bisnis, telah membuktikan bahwa penggunaan cerita visual mampu meningkatkan tingkat pemahaman sekaligus efektivitas penyampaian pesan. Dengan memahami dan memanfaatkan kekuatan unik cerita visual, kita dapat menciptakan komunikasi yang lebih kuat, persuasif, serta berkesan dalam berbagai konteks.
Referensi
- Paivio, A. (1971). Dual Coding Theory. University of Western Ontario. https://en.wikipedia.org/wiki/Dual-coding_theory?utm_source
- Scriberia. (n.d.). The Neuroscience of Visual Storytelling. Retrieved from https://news.scriberia.com/visual-storytelling-neuroscience
- Alpuim, T., & Ehrenberg, D. (2015). Visual Memorability. Retrieved from https://sites.psu.edu/psych256001fa2024/2024/11/23/visual-memorability/
- Education Corner. (n.d.). Dual Coding Theory: The Complete Guide for Teachers. https://www.educationcorner.com/dual-coding-theory/
- Training Industry. (n.d.). Visual + Verbal: The Cognitive Science and Application of Dual Coding in Learning. https://trainingindustry.com/articles/content-development/visual-verbal-the-cognitive-science-and-application-of-dual-coding-in-learning/