Virtual Production: Saat Layar LED Menggantikan Green Screen
Dari The Mandalorian hingga film horor Indonesia, virtual production mengubah cara film dibuat. Kenali cara kerjanya, kelebihan, tantangan, dan keterampilan yang dibutuhkan.

Selama puluhan tahun, adegan dengan latar fantastis identik dengan green screen. Aktor berakting di depan layar hijau polos, membayangkan dunia yang baru akan ditambahkan berbulan-bulan kemudian di tahap pascaproduksi. Kini ada pendekatan lain yang makin populer: virtual production, ketika latar digital ditampilkan langsung di dinding LED raksasa saat kamera merekam. Teknologi ini dikenal luas berkat serial The Mandalorian dan mulai merambah produksi film di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
1. Apa Itu Virtual Production?
Secara sederhana, virtual production menggabungkan syuting fisik dengan lingkungan digital yang dirender secara real-time oleh mesin gim (game engine). Lingkungan tersebut ditampilkan pada susunan layar LED yang mengelilingi area syuting, sering disebut LED volume. Posisi kamera dilacak terus-menerus, sehingga perspektif dan paralaks latar ikut bergeser setiap kali kamera bergerak. Hasilnya, banyak efek visual bisa direkam langsung di kamera (in-camera VFX), tanpa menunggu pascaproduksi (Seymour, 2020).

2. Belajar dari The Mandalorian
Untuk musim pertama The Mandalorian, tim Industrial Light & Magic (ILM) membangun dinding LED setinggi sekitar 6 meter yang melengkung 270 derajat, dilengkapi plafon LED, dan membentuk area syuting berdiameter sekitar 23 meter. Dinding ini tersusun dari 1.326 panel LED, menampilkan grafis Unreal Engine, dan dipakai untuk lebih dari 50% syuting musim pertama (Seymour, 2020).
Melalui sistem bernama StageCraft, tim di lokasi dapat mengubah set virtual saat itu juga. Aktor dan kru bisa melihat langsung lingkungan tempat mereka berakting, dan cahaya dari layar menciptakan pantulan alami, misalnya pada helm logam sang tokoh utama (Failes, 2020).

3. Kelebihan Virtual Production
- Pencahayaan yang menyatu. Layar LED ikut menjadi sumber cahaya, sehingga warna dan pantulan pada aktor serta properti terlihat sesuai dengan latarnya (Failes, 2020).
- Akting yang lebih natural. Aktor tidak lagi berimajinasi di depan layar hijau, tetapi melihat dan merespons dunia di sekitarnya.
- Ganti lokasi dalam hitungan menit. Lingkungan digital tersimpan di komputer dan bisa dimuat kapan saja, tanpa perlu membangun banyak set fisik atau berpindah lokasi syuting (Failes, 2020).
- Keputusan kreatif lebih awal. Set virtual dapat dijelajahi dan ditata pencahayaannya sebelum hari syuting.
4. Tantangan yang Perlu Dipahami
Teknologi ini bukan tanpa kendala. Karena latar sudah harus siap saat syuting, banyak keputusan desain yang biasanya diambil di pascaproduksi kini harus dibuat di praproduksi (Failes, 2020). Ada pula tantangan teknis: pola moiré dari kisi piksel layar, latar yang tidak bisa difokuskan ulang di lokasi bila terlalu dekat dengan lensa, perubahan warna di layar yang ikut mengubah cahaya pada aktor dan properti, jeda sinyal sekitar 8 frame, serta cahaya matahari yang sulit ditiru karena layar LED bekerja seperti lampu lembut (softbox) (Seymour, 2020). Investasi peralatan dan kebutuhan kru yang terlatih juga membuat teknologi ini belum bisa dipakai oleh semua produksi.

5. Mulai Masuk ke Film Indonesia
Virtual production juga mulai digunakan oleh sineas Indonesia. Film horor Bisikan Desa Gringsing arahan sutradara Ivander Tedjasukmana, yang diperkenalkan di Marché du Film, Festival Film Cannes 2026, disebut oleh produsernya sebagai film horor panjang Indonesia pertama yang memanfaatkan LED volumetric stage. Syutingnya dilakukan di Iskandar Malaysia Studios dan didukung program insentif dari pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Singapura (TIMES Indonesia, 2026).
6. Keterampilan yang Dibutuhkan
Virtual production menuntut perpaduan keahlian film dan animasi. Beberapa keterampilan yang makin dicari antara lain:
- Sinematografi dan tata cahaya, untuk menyatukan cahaya fisik dan digital.
- Pembuatan lingkungan 3D dan mesin real-time seperti Unreal Engine.
- Perencanaan praproduksi yang matang, termasuk previs dan desain set virtual.
- Kolaborasi lintas departemen antara sutradara, sinematografer, artis 3D, dan tim teknis.
Bagi yang ingin mulai belajar, Epic Games merilis Virtual Production Field Guide secara gratis sebagai panduan dasar bagi pembuat film (Epic Games, 2019).
Penutup
Virtual production menunjukkan bahwa batas antara film dan animasi makin tipis. Sineas masa depan perlu memahami kamera dan cahaya sekaligus dunia 3D dan teknologi real-time. Program Studi S1 Film dan Animasi Telkom University memadukan kedua bidang tersebut, sehingga mahasiswa dapat menyiapkan diri menghadapi cara produksi film yang terus berkembang.
Referensi
- Epic Games. (2019, 25 Juli). Virtual Production Field Guide: A new resource for filmmakers. https://www.unrealengine.com/blog/virtual-production-field-guide-a-new-resource-for-filmmakers
- Failes, I. (2020, 1 April). The Mandalorian and the future of filmmaking. VFX Voice. https://www.vfxvoice.com/the-mandalorian-and-the-future-of-filmmaking/
- Seymour, M. (2020, 4 Maret). Art of LED wall virtual production, part one: Lessons from the Mandalorian. fxguide. https://fxguide.com/fxfeatured/art-of-led-wall-virtual-production-part-one-lessons-from-the-mandalorian/
- TIMES Indonesia. (2026). Dari Cannes 2026, Bisikan Desa Gringsing jadi film horor Indonesia pertama berteknologi virtual. https://timesindonesia.co.id/entertainment/591111/dari-cannes-2026-bisikan-desa-gringsing-jadi-film-horor-indonesia-pertama-berteknologi-virtual

