Arsip

Pak Tino Sidin “Legenda Seni Rupa Indonesia”

20 Jul Pak Tino Sidin “Legenda Seni Rupa Indonesia”

Pak Tino Sidin tidak pernah mengkritik langit yang tidak biru, tanah yang ungu atau ayam dengan warna merah menyala, semuanya bagus

tino sidin

Siapa yang masih ingat Pak Tino Sidin? Bagi pembaca yang berusia di atas 30 tahun dan mempunyai hobi menggambar niscaya bukan saja ingat, tapi everlasting mengenangnya. Sosok kebapakan dengan gaya seniman yang khas. Topi bareta, kacamata bingkai tebal, senyuman cengar cengir dan satu kata ajaib yang ditunggu jutaan pemirsa anak – anak Indonesia: Yak, Baguuuus!

Tino Sidin selalu tampil khas, berkemeja batik garis lengkung, berbaret hitam dengan kuncir di atasnya, tatkala mengasuh gemar menggambar di layar TVRI tahun 1978. Orang Jawa kelahiran Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925, itu sangat akrab dengan anak-anak pada dekade delapan puluhan.


 

tino sidin2

Berbunga – bunga hati ketika gambar yang diangkatnya adalah gambar yang saya kirim ke redaksi TVRI acara Gemar Mengambar Bersama Pak Tino Sidin. Sumringah hati, terpaku di layar kaca ketika beliau mulai mengulas: Kiriman dari adek kita…doday, eehmm..dodiii ya dodi hidayat dari SD 05 pagi bintaro, kelas empat..ooo ada Superman sedang mengangkat kapal terbang yang terbakar, yak baguuusss! Semenjak itu, seperti ada energi mengalir dari layar TV memenuhi sanubari, penuh inspirasi dan semangat. Waktu itu dengan percaya dirinya saya akan jawab lugas pertanyaan klasik dari siapapun: Cita – cita Doddy apa? Pelukis!

Lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, 1963, yang terkenal setelah mengasuh acara Gemar Menggambar di TVRI, sempat ngambek, ketika acara mingguannya di TVRI diselingi Kak Alex, tanpa pemberitahuan kepadanya.

Pasalnya, ada yang menganggap sistem Pak Tino bisa merusakkan kreativitas anak. Sedangkan yang lain berpandangan justru karena caranya yang kocak dapat membangkitkan minat menggambar para bocah.

”TV bukan sekolah menggambar,” kata Tino. Acara Gemar Menggambar, menurut dia, harus bisa dinikmati semua golongan dan usia. Menggambar ibarat mengeja abjad, sedangkan melukis bagaikan mengarang novel. Karena itu, prinsipnya mengajar adalah: ”Membuat anak suka menggambar, itu saja.”

Putra bekas anggota pasukan Marsose di zaman Belanda itu suka menggambar di masa kecilnya. Padahal, dilarang oleh kakeknya, seorang sais pedati, karena dianggap tidak bisa menghidupi.

Menempati rumah kontrakan di Taman Aries, Jakarta Barat, Tino juga mengajar menggambar di tempat lainnya di Jakarta, seperti Pasar Seni Ancol, Pluit, dan Kepa Duri. Ia memimpin pelajaran menggambar di sejumlah TK dan SD Jakarta, lewat ”Taman Tino Sidin” yang juga dikembangkan di Surabaya, Yogyakarta, dan Padang. Ini, katanya, diilhami Taman Ismail Marzuki. ”Karena Taman Tino Sidin tak ada yang bikin, saya bikin sendiri,” tambahnya sambil tertawa.

Penggemar jalan-jalan ke ”gunung yang ada mistiknya” ini telah menghasilkan sejumlah buku. Antara lain, Bawang Merah Bawah Putih, dan Ibu Pertiwi, terbitan Balai Pustaka. Mari Menggambar macet setelah terbit 10 jilid. Malasnya timbul, katanya, setelah buku itu dibajak orang.

Karirinya diawali sebagai pegawai Kementerian Penerangan Jepang (1944-1945). Kemudian menjadi polisi Tentara di Sumatera (1945) dan guru menggambar di SMP Tebingtinggi (1945). Dia pun aktif sebagai Tentara Pelajar Brigade 17 (1946-1949). Kemudian menjadi Guru Taman Siswa di Tebingtinggi (1950-1952). Ketua Palang Merah Remaja di Langkat dan Ketua ASRI di Binjai, dilakoninya tahun 1953-1957. Tino pun sempat menjadi Sekretaris Veteran di Deli Serdang (1958-1959).

Lalu menjabat Ketua Pusat Latihan Lukis Anak (PLLA) dan Acara Gemar Menggambar TVRI Yogya (1969-1977). Kemudian aktif sebagai Penatar Guru Gambar SD Seluruh Indonesia (1980-1981) seraya tampil sebagai pengasuh Acara Gemar Menggambar TVRI Pusat (1978), mengajarkan gambar di Pasar Seni, Ancol, dan memimpinan Taman Tino Sidin, Surabaya dan Yogyakarta.

Sesungguhnya Pak Tino Sidin adalah selebritis di jamannya. Kalau kita perhatikan tayangan filem atau drama seperti sinetron di TVRI dulu, kalau ada peranan seniman pasti style nya dibuat mirip beliau. Bukan saja diidolakan anak – anak, Pak Tino juga menjadi trend setter. Mengenang beliau menjadi penting bukan karena eksistensinya saja, tetapi sumbangsih beliau yang besar sebagai tokoh pendidikan nasional, khususnya motivator pengembangan kreatifitas. Bagi orang dewasa, cara beliau mengajarkan menggambar mungkin kelihatan remeh. Tarik gariiis, lengkung, lengkung besar, lengkung kecil, bulaat..nah jadi deh kucing. Tapi bagi kami anak – anak waktu itu, apa yang diterangkan adalah solusi praktis. Teknik yang diajarkan merupakan jembatan antara daya imajinasi anak – anak yang tinggi dengan media kertas dan spidol. Pak Tino tidak pernah mengajarkan kita menghapus. Menarik garis seperti rangkaian cerita tersendiri. Sekali coret harus berani menyelesaikan.

Minggu sore yang cerah ,setelah mandi aku kecil sudah duduk manis sambil membawa pensil dan buku gambar didepan Televisi.Kuputar TVRI (saat itu tahun 80-an hanya satu-satunya Channel ),stt… tenang dulu,acara ‘GEMAR MENGGAMBAR ASUHAN PAK TINO SIDIN’ segera dimulai.

Acara dimulai dengan ditempelkannya beberapa kertas kosong didinding. Pak Tino dengan topi khasnya dan spidol memulai dari kertas pertama. ” adik-adik mari kita membuat angka 4,”lalu dia menuliskan angka 4 dilembar pertama. setelah selesai,dia bergeser kelembar kedua disbelahnya sambil berkata,” mari kita bikin garis dibawahnya..sreeet..nah mudah bukan?”…aku pun buru-buru menirukannya menggambar dibuku gambarku…begitulah seterusnya,beliau bergeser kekertas kosong disebelahnya hingga pada kertas terakhir akhirnya angka 4 tersebut menjadi gambar perahu nelayan lengkap dengan pak nelayan dan bendera merah putih…hahah..horee aku akhirnya punya trik baru.

akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu anak-anak pecinta pak Tino sidin,yaitu pak tino sidin akan menunjukkan gambar-gambar kiriman dari anak-anak seindonesia.

…………..Gambar kiriman dari adik kita di Pangkal Pinang, Aldi,…dia menggambar pemandangan belakang rumahnya..ada sawah ada jalan dan oh ada pak taninya…..BAGUS !……

ahhh…betapa dibacakan aja sudah ikut senang apalagi dipuji dengan kata ,” BAGUS !”oleh maestro pak Tino Sidin. Padahal kalau aku pikir-pikir sekarang, gunungnya selalu dua,ada jalan seolah membelah gunung tepat diantara kedua gunung.lalu bikin sawah dan padinya pakai huruf v, ada gubuknya disebelah jalan,lalu mobil (kira-kira model oplet 2d yang keliahatan ambruk ditengah jalan ),ada pohon kribo yang digambar disepanjang ruas jalan ( gak ada kaidah prespektif pokoknya hahaha ),dan yang paling lucu adalah ada matahari terbit diantara dua gunung,anehnya matahari itu mempunyai mata hidung dan senyuman..heheheh.(matahari yang aneh)….tapi sejelek apapun pak Tino,selalu menghargai karya Kiriman dengan kata-kata.”BAGUS!”

Pak Tino tidak pernah mengkritik langit yang tidak biru, tanah yang ungu atau ayam dengan warna merah menyala. Semuanya bagus. Semangat ini juga yang saya tanamkan pada Salma putri kesayangan saya. Semakin saya puji gambarnya, semakin berani dan kreatif karya – karya yang dibuat. Sayangnya pelajaran menggambar di sekolah justru menerapkan kurikulum sebaliknya. Penilaiannya adalah menggambar harus mirip dengan obyek aslinya. Langit harus biru, tanah coklat, daun hijau, matahari kuning. Padahal seni adalah ekspresi. Menggambar sama saja dengan membuat lagu, mengarang cerpen, membuat tarian. Persoalannya bukan sekedar pada teknik yang benar, komposisi yang rapih dan pakem – pakem lainnya. Karya seni adalah ekspresi jiwa. Karya seni yang baik dan memenuhi standar estetika tidaklah cukup, yang kita cari adalah karya novelties, masterpiece atau maha karya. Karya yang punya jiwa, cerita, pesan dan pengaruh.

Satu hal lagi yang penting, berkarya bukan harus selalu menjadi seniman. Tetapi proses kreasi yang mampu menuangkan ide, gagasan, imajinasi menjadi karya itulah yang penting. Proses kreasi adalah proses eksplorasi yang menggunakan otak kiri dan kanan sekaligus, meramu kemampuan rasional dam emosional untuk menemukan hal baru disegala bidang. Itulah esensi kreatifitas yang tidak boleh dilupakan dan disisihkan dalam dunia pendidikan. Yang kita ingin lahirkan bukan sekedar manusia yang mampu mengikuti resep, tetapi mampu membuat konsep dan resep – resep baru bagi solusi kehidupan. Menciptakan ide, teori, karya, solusi yang lebih baik dari yang terbaik saat ini.

dari berbagai sumber

 

No Comments

Post A Comment